Musim-Musim
Kehidupan
Hubungan-hubungan
kita, entah dengan Tuhan atau umat-Nya, berputar melalui musim demi musim. Ada
4 musim yang akan kita alami selama hidup kita seiring perjalanan hidup kita
bersama Tuhan :
Musim-Musim Penyingkapan
Musim
semi di dalam hubungan kita dengan Tuhan merupakan periode-periode “cinta
pertama” di mana Tuhan dengan giatnya menyingkapkan diri-Nya sendiri, dan
rasanya waktu tidak cukup banyak untuk bersama Dia. Kita merasakan
kedekatan-Nya, dan hampir selalu ada hadirat yang nyata di dalamnya. Selama
musim-musim ini, kehidupan dipenuhi dengan kata-kata yang segar dari Tuhan,
pewahyuan yang baru, dan banyak waktu di mana kita melihat Dia mencium
kehidupan kita dengan berkat-berkat yang tidak terduga.
Musim
Semi adalah masa menanam, segala sesuatu ada dalam bentuk benih, tapi musim
penyingkapan yang baru akan membutuhkan sebuah proses kepercayaan dan
kedewasaan yang baru. Ketika kita menerima firman, simpan itu di dalam hati
kita dan jangan menceritakannya sampai Allah menyuruh kita melakukannya. Satu
kerugian yang dapat terjadi jika kita menceritakan rahasia kepada orang-orang
adalah bahwa beberapa orang tidak dapat memandang kita seperti cara Tuhan
melihat kita. Mereka mungkin akan menghancurkan mimpi-mimpi kita dan mendorong
kita kepada roh ketidakpercayaan, yang bisa menjadi sebuah benteng. Selain itu,
jika Allah memberikan sebuah janji kepada kita, biarkan Dia yang memimpin kita
untuk menggenapinya. Penggenapan kita mungkin akan tiba dalam suatu musim
ketika kita paling tidak mengharapkannya.
Musim yang Penuh Gairah
Sama
seperti musim panas setelah musim semi, musim penyingkapan diikuti oleh musim
yang penuh gairah. Kita telah mendengar Tuhan ingin memakai kita, dan sekarang
kegairahan kita untuk bertindak mulai menguat. Hadirat Allah menyertai kita,
dan kita merasa diberikan kuasa oleh kebaikan dan jawaban-jawaban-Nya atas
doa-doa kita. Berbagai hal mulai memanas selama masa ini, terutama semangat
kita. Pada musim yang penuh gairah, berdoa merupakan hal yang menyenangkan
dan kita merasa penuh kuasa. Kita siap untuk mengalahkan iblis, sampai kita
menemukan bahwa “iblis yang berada di depan kaca” adalah roh independen kita.
Sikap
ketidakbergantungan kita pada Tuhan muncul ketika kita melihat kuasa dari
karunia-karunia roh kita bekerja dan kemurahan Tuhan ada atas kita. Kita
tergoda untuk mengganti kepercayaan kita dari Allah yang empunya
pekerjaan menjadi pekerjaan Allah. Ketika
itu terjadi, kerendahan hati dengan diam-diam digantikan oleh keangkuhan. Kita
semua harus menjaga diri kita ketika berbagai gairah dipacu dengan cepat. Tanpa
pertolongan Tuhan, setiap kita bisa jatuh pada area mempromosikan diri kita
sendiri, karena setan selalu mencari suatu cara untuk merampas kemurahan Tuhan
dari kita. Musim yang penuh gairah merupakan sesuatu yang diperlukan dan harus
dihargai. Musim itu memacu kita untuk belajar lebih banyak tentang
jalan-jalan Tuhan, terutama ketika kita dikelilingi oleh para mentor yang
tepat.
Musim Pelucutan
Musim
pelucutan, seperti musim gugur, masuk tanpa kata-kata sehingga kita
hampir tidak menyadari kedatangannya. Kebanyakan kita yang memasuki
masa-masa pelucutan merasa puas dengan panenan yang telah kita hasilkan di masa
lalu. Tiba-tiba suatu perubahan yang nyata terjadi dalam hal kemampuan kita
untuk membuat berbagai hal menyesuaikan diri. Kita bergumul untuk menemukan
kepuasan dalam pencapaian di masa lalu dan siapa diri kita yang dahulu, tetapi
jalannya tidak berada di sana.
Ketika
penampian dimulai, hal-hal yang paling kita andalkan lenyap di depan mata
kita. Persahabatan cenderung berakhir, atau bahkan mati, karena semua
berhala harus dihancurkan. Kita mengalami pengkhianatan dan bertanya-tanya. Di
manakah Tuhan?
Selama
masa-masa ini, semakin keras kita mencoba untuk memperbaiki apa yang tidak
berjalan lancar, semakin kita menyadari betapa tidak berkuasanya diri kita
sesungguhnya. Tampaknya tak seorang pun yang memiliki petunjuk, dan tak
ada cara untuk menghubungkan kita kembali ke musim kita yang penuh
gairah.
Jika
kita sedang berada dalam musim pelucutan, ketahuilah bahwa Allah tidak
membuang kita; Dia hanya ingin membawa kita mengenal Dia lebih dalam. Dia
mengasihi kita, Dia mengasihi kita tepat di mana kita berada dalam pergumulan
kita. Musim pelucutan menggemakan masa-masa pemangkasan, terutama dalam
hal tujuan.
Hari-hari
kita terasa seperti di malam hari, dan Tuhan sekarang mengarahkan rasa lapar
kita kepada hal-hal yang akan membuat kita tertanam dengan kuat di dalam Dia.
Dan Ia akan melakukan hal itu melalui sebuah proses supaya pengalaman
tersebut tidak menghancurkan kita, tetapi sebaliknya akan memulihkan kehancuran
kita dengan membunuh hal-hal yang memisahkan kita dari Dia.
Musim Berdiam di Dalam Gua
Musim
dingin membunuh! Hal-hal di permukaan, hal-hal yang bersifat mementingkan diri
sendiri, harus mati; hanya akar yang bertahan. Musim dingin adalah
pembedahan hati tanpa pembiusan. Kita tidak memilih musim dingin, tetapi kita
memilih akan menjadi seperti apa kita sebagai hasil darinya. Beberapa orang
memilih untuk menjadi seperti burung di musim salju dan meninggalkan berbagai
hubungan dan relasi yang diperdalam oleh berbagai pencobaan di musim dingin.
Namun, pilihan itu mengakibatkan hilangnya keintiman. Mereka yang memilih
untuk bertahan akan berubah; mereka akan menjadi orang yang intim dengan Tuhan.
Di
akhir musim dingin, kita telah “dikuliti” dari diri kita yang dahulu.
Kita tidak lagi dapat berpura-pura untuk tidak menjadi diri kita sendiri. Musim
dingin memaksa kita untuk menjadi diri kita yang sesungguhnya sampai ke
akar-akarnya. Kita mudah menangis dan kadang-kadang kita tidak tahu
sebabnya. Setiap penghuni gua tahu bahwa Tuhan menarik hadirat-Nya untuk
mengajar kita berdiam diri.
Peringatan
:
Mengasihani diri sendiri di dalam gua dapat mendorong kita pada ketergantungan
yang salah seperti bergantung pada para psikolog, obat-obatan, dan menjadi
pesimis. Saran : Tetaplah teguh dan lihatlah keselamatan yang dari
Tuhan! Dia berjanji untuk tidak pernah meninggalkan atau mengabaikan kita, dan
Dia tidak akan pernah meninggalkan atau mengabaikan kita, dan Dia tidak akan
pernah melakukannya.
Hasil Musim
Masa-masa
keintiman merupakan cara Allah untuk mengajar kita bahwa itu tidak lagi
mengenai saya yang sedang berusaha untuk berada dalam Kristus; itu adalah
mengenai Kristus di dalam saya, pengharapan akan kemuliaan. Tidak Peduli di
musim apa kita sedang berada saat ini, ketahuilah bahwa ada sebuah alasan di
musim tersebut yang akan mengajar kita untuk berkata, “Tenanglah, tenanglah hai jiwaku.” Itulah
keintiman!
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.